Ada Apa dengan Wahhabi?

Aliran Wahabi ini dinamai diambil berdasarkan nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H/1699 M). "Wahhabi" adalah sebuah aliran baru dalam Islam anggapan kebayakan orang. Namun, tahukah Anda, apa yang ada di balik gelar Wahhabi?! Apa sebenar nya Wahhabi, aqidah dan dakwah mereka?

sejarah wahabi
source: pavelsokov.com

Koreksi Gelar Wahabi


"Wahhabi" sejatinya bukanlah suatu gelar yang dicetuskan oleh para pengikut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab , namun dari musuh-musuh dakwah baik karena situasi politik saat itu-seperti Turki-atau para pencinta kesyirikan dari kalangan kaum Sufi dan Rafidhah, dengan tujuan melarikan manusia dari dakwah yang beliau emban dan menggambarkan bahwa beliau membawa ajaran baru atau madzhab kelima yang menyelisihi empat madzhab.

Al-Ustadz az-Zirikli mengungkapakan dalam sebuah biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab: "Musuh-musuh mereka menggelari dengan Wahhabiyyun nisbat kepada beliau. Gelar ini begitu populer di kalangan orang-orang Eropa, sehingga masuk dalam kamus modern mereka. Kesalahan persepsi dari sebagian kalangan mereka ketika menganggapnya sebagai madzhab baru dalam Islam karena meniru kedustaanpara musuhnya, lebih-lebih para da'i yang didukung oleh Turki Utsmani waktu itu."

Kesalahan Gelar Segi Bahasa


Ditelisik dalam kaidah bahasa Arab, gelar Wahabi nisbat terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah keliru, nisbat yang benar-kalau mau jujur adalah "Muhammadiyyah", karena nisbat kepada nva yaitu Muhammad, bukan ayah beliau yang tidak ada keterkaitan yaitu Abdul Wahhab.

Aneh bin ajaibnya, gelar ini diingkari oleh orang-orang Nejed, hal yang menunjukkan kepada kita bahwa bahwa gelar ini hanyalah impor dari luar negeri Nejed yang disebarkan oleh musuh-musuh dakwah, terutama nama Turki waktu itu.

Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama Wahhabi sebagai nisbat kepada al-Wahhab (Maha Pemberi), salah satu nama Allah.

Kesalahan Gelar Segi Sejarah


Berekor dari kesalahan di atas, maka gelar ini memiliki dampak negatif lainnya yang tidak kalah parahnya, yaitu penyelewengan terhadap sejarah, sebab banyak para sejarawan yang akhirnya menisbatkan dakwah ini kepada ayah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bukan kepada dirinya. Ambil contoh, Farid Wajdi dalam Da'irah Ma'arif nya juz kesepuluh, dia mengatakan, "Wahhabiyyah adalah sekelompok muslim yang mengikut seorang bernama Abdul Wahhab di Arab."


Bahkan dalam Kitab al-Alam yang ditulis oleh para doktor Amerika dari berbagai bidang: sejarah, filsafat dan sastra, mereka mengatakan, "Mereka adalah kelompok kaum muslimin di Jazirah Arab yang mengikuti ajaran Abdul Wahhab, pembaharu yang muncul pada tahun 1745 M."

Masih banyak lagi lainnya yang terjerumus dalam kesalahan ini. Hal itu tidak lain karena disebabkan gelar dan penisbatan yang tidak sesuai kenyataan ini.

Persepsi dan Fakta Tentang Wahhabi dari Kalangan Raja dan Syaih Terdahulu


Kesalahan ini sangat nyata, sebab dakwah ini tidak seperti yang mereka gambarkan, tetapi dakwah ini berupaya untuk kembali kepada Islam yang murni, al-Qur'an dan Sunnah ash-Shahihah sesuai pemahaman salaf shalih, sekalipun ahli bid'ah dan quburiyyun membencinya!

Raja Abdul Aziz


Dalam khotbahnya di Makkah pada Dbulan Dzulhijjah tahun 1347 H.  mengatakan: "Mereka menggelari kami 'Wahhabiyyun' dan madzhab kami adalah 'Wahhabi' sebagai madzhab tertentu, maka ini adalah kesalahan fatal akibat kabar bohong yang didesuskan oleh sebagian kalangan yang memiliki niat jahat. Kami bukanlah pemeluk madzhab yang baru atau aqidah baru, Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah membawa ajaran baru, aqidah kami adalah aqidah salaf shalih yang diajarkan dalam al-Qur'an dan sunnah sebagaimana pemahaman salaf shalih. Kami menghormati para imam empat, tidak ada bedanya bagi kami antara Malik, Syafi'i, Ahmad, dan Abu Hanifah, semuanya sangat terhormat dalam pandangan kami.

Inilah aqidah yang diemban oleh Syaikh Islam Muhammad bin Abdul Wahhab , inilah aqidah kami, sebuah aqidah yang dibangun di atas tauhid yang murni dari segala noda-noda bid'ah. Aqidah tauhid inilah yang kami dakwahkan dan dapat menyelamatkan kita dari semua petaka."

Al-Ustadz Abdurrahman ar-Ruwaisyid


Beliau mengatakan: "Wahhabi bukanlah sebuah agama baru atau madzhab baru sebagaimana didengungkan oleh para musuh, tetapi Wahhabi adalah buah usaha yang tulus mengajak kembali kepada Islam yang murni melalui sumber aslinya dan menyerukan pemurnian agama dari hal-hal yang disandarkan kepadanya berupa kesyirikan, kebid'ahan, dan kesesatan yang semua itu menodai keindahan iman danmerusak kecerahan agama sertamelumpuhkan kekuatannya.

Sekalipun demikian, dengan berjalannya waktu, kita melihat para ulama dakwah sekarang tidak menganggap label Wahhabi sebagai suatu aib dan celaan. Sebagai contoh risalah al-Hadiyyah as-Saniyyah al-Wahhabiyyah an-Najdiyyah oleh Syaikh Sulaiman bin Sahman, Atsar Dakwah al-Wahhabiyyah oleh Muhammad Hamid al-Faqqi, al-Wahhabiyyun wal Hijaz oleh Muhammad Rasyid Ridha, ats-Tsauriyyah al-ah habiyyah dan al-Fashl al-Hasim Baina al-Wahhabiyyin Mukhalifihim oleh al-Qashimi, Haqiqat al-Madzha wa al-Wahhabi oleh Sulaiman ad-Dakhil .

Syaikh Mas'ud an-Nadawi s berkata:


"Bagaimanapun juga, melihat kepada usaha-usaha yang mereka kerahkan untuk menggambarkan Wahhabiyyah sebagai ajaran tersendiri dan kelompok sesat, gelar ini sangat perlu untuk dikritik. Namun, dengan menutup pan dangan dari kedustaan dantuduhan bohong ini, saya memandang penamaan ini tidak menjadi masalah.

Di Balik Gelar Wahhabi


Amat sangat jelas, gelar Wahhabi pada merupakan senjata empuk untuk menyifati seorang yang konsisten dengan agama Islam dan melanggar tradisi masyarakat yang menyimpang berupa kesyirikan, kebid'ahan, dan khurafat. Hal ini semakin tampak pasca tragedy tember 2001, robohnya WTC di Amerika Serikat. Apakah tujuan mereka di balik gelar tersebut?!!

Dr. Abdullah al-Utsaimin mengatakan:


"Sebagaimana diketahui bersama bahwa tujuan para penghujat dakwah dengan gelar ini 'Wahhabi' adalah untuk melarikan manusia dari dakwah beliau, atau dengan kata lain menuduh beliau menyebarkan agama baru atau madzhab kelima. Kendatipun sudah banyak manusia di belahan timur dan barat sekarang ini yang mengetahui hakikat dakwah beliau sebenarnya, namun gelar ini masih laris digunakan oleh para penulis di berbagai negara."

Mas'ud an-Nadawi berkata:


"Termasuk kebohongan yang amat nyata terhadap dakwah Syaikhul Islam (Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah menggelarinya dengan Wahhabiyyah. Orang-orang yang rakus dan memiliki tujuan berusaha dengan gelar ini untuk menetapkan bahwa Wahhabi adalah agama di luar Islam. Inggris, Turki, dan Mesir telah berhasil menggambarkannya dengan gambaran yang menyeramkan, di mana setiap kali ada pergerakan Islam di dunia yang dipandang berbahaya bagi mereka, maka mereka mengaitkannya dengan Wahhabi."

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan:


"Sesungguhnya faktor penyebab tuduhan miring kepada Wahhabi adalah politik semata, untuk melarikan kaum muslimin dari mereka, karena mereka menguasai Hijaz, di mana Turki merasa khawatir apabila Wahhabi mendirikan institusi kenegaraan Arab. Oleh karena itu, masyarakat benci kepada mereka karena mengikuti kemarahan negeri, dan mereka diam tatkala angin politik menjadi tenang.

Namun apa pun kemauan musuh, Allah pasti akan mengangkat agama-Nya dan menyingkap tirai musuh-musuh yang berusaha melenyapkan cahaya-Nya. Ahmad bin Hajar Rahimahullaoh berkata:

"Termasuk keajaiban takdir Allah, Allah membalik tujuan musuh-musuh dakwah, di mana asli tujuan mereka dengan menyematkan label Wahhabi adalah untuk mencela mereka dan menggambarkan bahwa mereka adalah ahli bid'ah dan tidak cinta Rasul Namun gelar ini pada saat sekarang menjadi simbol bagi setiap orang yang mengajak kepada al-Quran dan Sunnah, menyeru untuk berpijak kepada dalil, menyeru tegaknya bid'ah dan khurafat, serta amar ma'ruf nahi munkar, melawan berpijak dengan madzhab salaf.

Oleh karenanya, Anda dapat menyaksikan sendiri bahwa setiap orang yang mengingkari kebidahan di masyarakat, dia akan disebut 'Wahabi'.

Jadi, gelar ini merupakan pujian dan simbol bagi setiap golongan yang mengikuti al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf shalih, dan setiap orang yang mendakwahkan tauhid ibadah dan uluhiyyah, Cukuplah hal ini sebagai kebanggaan bagi mereka.

Alangkah indahnya ucapan Syaikh Imrans tatkala mengatakan: Jika pengikut Ahmad (Muhammad) adalah Wahhabi maka aku akui bahwa diriku Wahhabi.

Sumber referensi:
Yusuf Ubadidah, Meluruskan Sejarah Wahhabi, Pustaka Al Furqon Jawa Timur Indonesia, 2010

Tidak ada komentar