Penerapan Kode Etik Guru dalam Pelaksanaan Tugasnya

Kode etik guru merupakan panduan bagi para guru dalam berperilaku sejatinya dapat diterapkan di dalam tugasnya di lapangan dan tahapan kegiatan pembelajaran. Bahkan, kalau ingin mendapat tempat di hati peserta didik maka guru dipandang perlu berpegang teguh pada kode etik nya pada saat proses pembelajaran berlangsung.

kode etik guru indonesia
source: merlinedu.com

Perilaku yang ditampilkan seorang guru harus mencerminkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kode etik itu sehingga makna kode etik tersebut menjelma dalam perilakunya.

Berikut ini dikemukakan bagaimana uraian penerapan Kode Etik Guru Indonesia di dalam pelaksanaan tugasnya sesuai dengan AD/ART PGRI 1994.

Guru berbakti membimbing peserta didik dalam membentuk insan yang berjiwa Pancasila


Dalam memainkan perannya ketika mengadakan proses pembelajaran, guru senantiasa membimbing peserta didik menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Konsepsi manusia utuh yang dimaksud dilukiskan sebagai berikut ini.

Pertama, manusia yang seimbang antara perkembangan jasmani dan rohaninya, juga seimbang pula antara kebutuhan kedua aspek tersebut. Keutuhan ini dianalisis dari dimensi rohani-jasmani.

Kedua, manusia yang selaras antara pemenuhan kebutuhan individual dan sosialnya. Keutuhan ini dianalisis berdasarkan dimensi sosial-individual manusia.

Dengan konsepsi ini peserta didik tidak hanya menjadi manusia yang hanya mementingkan diri sendiri dan bukan pula terlalu mementingkan kebutuhan kelompok atau masyarakat.

Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional


Dalam melaksanakan bimbingan pada peserta didik dalam proses pembelajaran ia harus berpegang teguh pada kejujuran profesional, yaitu suatu pengakuan atas batasan kemampuan profesional-nya.

Guru harus tampil dengan pribadi yang jujur secara profesional di tengah-tengah peserta didik nya. Ia tidak melakukan hal-hal yang di luar batas kemampuannya dan tidak pula melakukan pekerjaan yang ada dalam koridor kewenangan profesi lain.

Akan terpuji jika ia dapat mengakui kelemahan atau kekeliruan nya (bila terjadi). Terbuka untuk menerima masukan yang lebih baik dari pendidikan dan pihak lainnya.

Guru berusaha menelusuri informasi tentang peserta didik sebagai rujukan melakukan bimbingan dan pembinaan.


Proses pembelajaran amat memerlukan informasi tentang peserta didik yang berkaitan dengan minat, bakat, kemampuan, hobi, kebiasaan, kelompok sejawat nya dalam belajar, dan sebagainya.

Untuk memperoleh informasi tersebut dapat dilakukan secara langsung terhadap peserta didik, namun dapat pula diperoleh dari pihak-pihak lain yang kompeten dan tepercaya, misalnya, dari temannya, orang tua, dan pihak-pihak lain yang dapat dipercaya.

Informasi itu digunakan sebagai bahan pertimbangan melakukan bimbingan dan pembinaan serta keperluan relevan lainnya dengan penuh kejujuran.

Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya untuk menunjang berhasilnya proses pembelajaran


Dalam melaksanakan tugasnya guru berupaya menciptakan suasana sekolah/madrasah dengan sebaik-baiknya untuk menunjang berhasilnya proses belajar mengajar. Untuk itu ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan guru yaitu:

Pertama, guru melaksanakan proses pembelajaran yang interaksi nya diwarnai dengan prinsip hubungan yang bersifat membantu. Menurut Brammer (1979:42) hubungan yang bersifat membantu merupakan upaya guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif agar terjadinya pemecahan masalah dan pengembangan diri peserta didik Hubungan ini ditandai oleh adanya perilaku empati, penerimaan dan penghargaan, kehangatan dan perhatian, keterbukaan dan ketulusan, serta kekonkritan dan kekhususan ekspresi.

Kedua, guru mengadakan kerja sama dengan berbagai personel di sekolah/madrasah Kerja sama ini semata-mata diperuntukkan bagi terciptanya suasana atau organisasi sekolah/madrasah yang menunjang keberhasilan proses pembelajaran peserta didik secara optimal.

Guru menjaga hubungan baik dengan wali murid dan stakeholder untuk membina peran serta dan rasa tanggung Jawab terhadap pendidikan


Pendidikan bukan hanya tugas dan tanggung jawab para guru karena pada hakikatnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah/lembaga pendidikan dan stakeholder yang terkait. Pendekatan pendidikan seperti ini sudah cukup lama tertanam di negeri kita.

Hubungan baik tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: dengan mengadakan kegiatan home visit (kunjungan rumah) jika diperlukan, melibatkan orang tua peserta didik dan masyarakat dalam menentukan tujuan dan kurikulum pendidikan di sekolah/madrasah, mengundang orang tua dan unsur masyarakat dalam berbagai kegiatan penting seperti kenaikan kelas, pembagian rapor, dan sebagainya.

Setiap guru bertanggung jawab mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesi nya.


Dalam mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Pengembangan dan peningkatan mutu ini mengacu kepada kualitas profesional berupa peningkatan dan pengembangan keterampilan khusus dalam bidang kependidikan.

Secara individual, guru dapat melatih keterampilan nya dengan cara mengabdikan diri secara sungguh-sungguh sembari menempa diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan dari sumber-sumber yang akurat.

Sedangkan peningkatan dan pengembangan  martabat profesi menunjuk pada upaya menempatkan profesi keguguran ada di hati para peserta didik dan masyarakat pada umumnya.

Untuk pengembangan dan peningkatan kedua hal tersebut, baik secara pribadi maupun secara kelompok guru dapat mengikuti berbagai pendidikan dan latihan profesional di bidang kependidikan, seminar ilmiah tentang profesi kependidikan secara insidental atau terstruktur dan terprogram secara melembaga.

Guru memelihara hubungan sejawat keprofesian, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial


Dalam bertugas, guru harus memelihara hubungan dengan sejawat Artinya, menjaga dan memelihara hubungan antar guru lainnya, baik dengan guru yang memiliki keahlian sama maupun berbeda.

Dengan demikian, guru dapat saling membantu dalam menghadapi kesulitan, saling menasihati demi kebaikan dan kemajuan, serta saling menghargai keahlian masing-masing.

Hubungan tersebut dapat bersifat (a) akademis, misalnya, saling berkonsultasi dalam membahas materi pelajaran; (b) referal rujukan), misalnya, jika seorang guru tidak dapat menangani peserta didiknya karena mengalami masalah psikologis, ia merujukkannya kepada guru atau ahli lain yang lebih kompeten dalam menghadapi masalah peserta didik tersebut, umpamanya konselor, psikolog, dan dokter; (c) hubungan pribadi, misalnya ketika seorang guru menghadapi masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh dirinya sendiri, ia mendiskusikan masalah itu dengan guru dan pihak lain yang dapat dipercaya.

Contohnya, jika guru lain terkena musibah, paling tidak ia menjenguk guru tersebut atau bahkan memberikan bantuan berupa materi atau lainnya sesuai dengan kemampuannya,  keprofesian, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.

Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi sebagai sarana perjuangan


Dalam melaksanakan tugasnya, guru harus memelihara dan meningkatkan mutu organisasi profesinya, yaitu PGRI dengan unit-unit nya beserta entitas yang terkait seperti yang tertuang dalam kode etik guru indonesia.

Sebagai anggota organisasi profesi, guru sebaiknya menjadi anggota aktif PGRI atau organisasi kependidikan lainnya dan berkiprah di dalamnya dengan berbagai daya upaya sehingga mutu organisasi tersebut tetap terpelihara bahkan kalau dapat meningkat.

Sedikitnya, guru berupaya untuk mengimplementasikan misi PGRI atau organisasi kependidikan lainnya yang mencakup misi profesi, kemasyarakatan, dan misi kesejahteraan, misalnya guru senantiasa bertindak profesional (misi profesi) guru selalu menanamkan sikap kemasyarakatan ketika proses pembelajaran berlangsung (misi kemasyarakatan), dan guru berpartisipasi aktif dalam kegiatan usaha koperasi guru (misi kesejahteraan).

Guru harus melaksanakan segala kebijaksanaan yang ditetapkan pemerintah dalam bidang pendidikan


Dalam melaksanakan tugasnya guru seyogianya melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sepanjang selaras dengan nilai, hak, dan martabat kemanusiaan. Misalnya, guru berupaya dan berperan serta dalam menyukseskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

Upaya yang mungkin dapat dilakukan guru antara lain dengan cara memotivasi peserta didik dengan orang tuanya atau anggota masyarakat lain agar mereka minimal menyelesaikan pendidikan 6 tahun di SD dan 3 tahun di SLTP.

Tidak ada komentar