Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)

Di dalam UUSPN No. 2/1989 pasal 39 ayat (2) ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat, antara lain pendidikan agama.

Pendidikan Agama Islam
source: stichtingbekeerling.nl

Dalam penjelasannya diterangkan bahwa pendidikan agama adalah usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk saling  menghormati agama satu sama lain dalam hubungan kerukunan antar sesama umat beragama didalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional.

Dalam konsep agama Islam, iman adalah potensi rohani yang harus dikerjakan dalam bentuk amal saleh, sehingga menghasilkan prestasi rohani (iman) yang disebut takwa.

Amal saleh itu menyangkut keserasian dan keselarasan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan dirinya yang membentuk kesalehan pribadi hubungan manusia dengan sesama nya yang membentuk kesalehan sosial (solidaritas sosial), dan hubungan manusia dengan alam yang membentuk kesalehan ter hadap alam sekitar.

Kualitas amal saleh ini akan menentukan derajat ketakwaan (prestasi rohani/ iman) seseorang di hadapan Allah SWT  Di dalam GBPP PAI di sekolah umum, dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu upaya dengan sungguh-sungguh untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, antara lain berikut ini:

  1. Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
  2. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan dalam arti ada yang dibimbing, diajari dan/atau dilatih dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam.
  3. Pendidik atau Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yang melakukan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan secara sadar terhadap peserta didik nya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.
  4. Kegiatan (pembelajaran) pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik, yang di samping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial. 

Dalam arti, kualitas atau kesalehan pribadi itu diharapkan mampu memancar ke luar
dalam hubungan keseharian dengan manusia lainnya (bermasyarakat), baik yang seagama (sesama muslim) atau pun yang tidak seagama (hubungan dengan non muslim), serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhuwah wathaniyah) dan bahkan ukhuwah insaniyah (persatuan dan kesatuan antar sesama manusia).

Usaha pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah diharapkan agar mampu membentuk kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial sehingga pendidikan agama diharapkan jangan sampai: (1) menumbuhkan semangat fanatisme; (2) menumbuhkan sikap intoleran di kalangan peserta didik dan masyarakat Indonesia; dan (3) memperlemah kerukunan hidup beragama serta persatuan dan kesatuan nasional (Menteri Agama RI, 1996),

Walhasil, pendidikan agama Islam diharapkan mampu menciptakan ukhuwah Islamiyah dalam arti luas, yaitu ukhuwah fi al-ubudiyah, ukhuwah fi al-insaniyah, ukhuwah fi al wathaniyah wa al-na sab, dan ukhuwah fi din al-Islam.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang pluralistik, dalam arti masyarakat yang serba plural, baik dalam agama, ras, etnis, tradisi, budaya dan sebagainya, adalah sangat rentan terhadap timbulnya perpecahan dan konflik-konflik sosial.

Dengan perkataan lain, agama dalam kehidupan masyarakat majemuk dapat berperan sebagai faktor pemersatu (integratif), dan dapat pula berperan sebagai faktor pemecah (disintegratif).

Fenomena semacam ini akan banyak ditentukan setidak-tidaknya oleh:
(1) teologi agama dan doktrin ajarannya;
(2) sikap dan perilaku pemeluknya dalam memahami dan menghayati agama tersebut;
(3) lingkungan sosio-kultural yang mengelilinginya; serta
(4) peranan dan pengaruh pemuka agama, termasuk guru agama, dalam mengarahkan pengikutnya.

Karena itu, pembelajaran pendidikan agama Islam diharapkan mampu mewujudkan ukhuwah islamiyah dalam arti luas tersebut. Sungguh-pun masyarakat berbeda-berbeda agama, ras, etnis, tradisi, dan budaya, tetapi bagaimana melalui keragaman ini dapat dibangun suatu tatanan hidup yang rukun, damai dan tercipta kebersamaan hidup serta toleransi yang dinamis dalam membangun bangsa Indonesia.

Masyarakat yang plural membutuhkan ikatan keadaban (thebound of civility), yakni pergaulan antara satu sama lain yang diikat dengan suatu "civility" (keadaban).

Ikatan ini pada dasarnya dapat dibangun dari nilai-nilai universal ajaran agama, karena itu, bagaimana guru agama mampu membelajarkan pendidikan agama yang difungsikan sebagai panduan moral dalam kehidupan masyarakat yang serba plural tersebut, dan bagaimana guru agama mampu mengangkat dimensi-dimensi konseptual dan substansial dari ajaran agama, seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, kesadaran akan hak dan kewajiban, ketulusan dalam beramal, musyawarah dan sebagainya, untuk diaktualisasikan dan direalisasikan dalam hidup dan kehidupan masyarakat yang plural tersebut.

Di dalam ajaran agama Islam terdapat suatu pandangan yang universal, yaitu bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang terbaik dan tertinggi/termulia (Q.S. Al-Tin: 4, dan Al-Isra': 70), serta diciptakan dalam kesucian asal (fitrah) sehingga
setiap manusia mempunyai potensi benar. Di sisi lain, manusia juga diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang daif (Q.S. Al-Nisa': 28) sehingga setiap manusia mempunyai potensi salah.

Pandangan semacam itu akan berimplikasi pada sikap dan perilaku seorang muslim yang harus mau mendengarkan dan menghargai pendapat serta pandangan orang lain karena setiap orang berhak menyatakan pendapat dan pandangannya masing-masing, tidak berpaham memutlakkan (abaolutiome), dalam dirinya atau kelompoknya lah yang paling benar, sementara yang lain dipandang serba salah, serta tidak mengembangkan sistem kultus individu, fanatisme buta terhadap kelompok karena kultus hanya diarahkan kepada Allah semata.

Dimensi-dimensi ajaran agama baik yang vertikal maupun horizontal, semuanya harus termuat dan tercakup dalam pengertian pendidikan agama, untuk tidak sekadar membentuk kualitas dan kesalehan individu semata, tetapi juga sekaligus kualitas dan kesalehan sosial, serta kesalehan terhadap alam semesta.

Sumber:
Muhaimin, Dkk, 2004, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Bandung , Remaja Roesdakarya. 

Tidak ada komentar