Perlunya Pelatihan Bagi Guru

Sasaran guru mengikuti pelatihan adalah untuk meningkatkan kompetensinya yang akan berpengaruh terhadap kinerja yang lebih baik.

Individu yang mengikuti pelatihan kompetensi nya akan meningkat yang dinyatakan sebagai suatu penampilan rasional yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan, dalam hal ini adalah mutu pendidikan (Makmum, 1999 59).

guru pembelajar
source: professionedocente.com

Berbagai macam pelatihan yang diikuti oleh guru akan menentukan aspek-aspek proses dari kinerja nya dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang meningkat, seperti beberapa tahun terakhir dinas pendidikan sedang gencar dalam pelatihan K13.

Pengertian Pelatihan Menurut Para Ahli


Kata "diklat" merupakan akronim dari kata "pendidikan" dan "pelatihan", Menurut Handoko (1995: 102) pelatihan adalah usaha memperbaiki penguasaan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan teknik pelaksanaan kerja tertentu secara terinci dan rutin serta menyiapkan karyawan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang.

Program pelatihan guru memiliki target yang jelas sehingga pesertanya dianggap sebagai bahan baku yang harus diproses supaya menjadi produk yang sudah direncanakan. Sementara pendidikan, pada sisi lain, memiliki tujuan sebatas pada proses memanusiakan manusia itu sendiri.

Pendapat lain dating dari Wexley dan Yuki (1997: 79) adalah proses pekerja mempelajari keterampilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku yang diperlukan guna melaksanakan pekerjaannya secara efektif.

Pandangan yang tidak jauh berbeda dengan pendapat Handoko (1995: 1170 bahwa pendidikan bertujuan untuk memberikan pengetahuan, sedangkan pelatihan bertujuan pada tindakan. Sesuai dengan pemikiran Handoko, pelatihan harus lebih sistematis dari pada pendidikan dikarenakan pengetahuan dapat ditransfer kapan saja, sedangkan pelatihan harus tersusun secara sistematis dan skematis agar sasaran yang telah yang juga membedakan pendidikan dan ditetapkan dapat dicapai dengan baik. Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan dapat diartikan sebagai proses memanusiakan manusia dan membekali pesertanya dengan keterampilan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerjanya.

Menurut Noe (2003: 189) pelatihan adalah upaya terencana dari sebuah organisasi dalam memfasilitasi pembelajaran yang dilakukan karyawan terkait dengan kompetensi yang mereka miliki dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaannya.

Kompetensi yang dimaksud meliputi pengetahuan, kemampuan atau keahlian, dan perilaku yang sangat penting bagi kesuksesan kinerja karyawan. Pelatihan ditujukan untuk memperkuat kompetensi karyawan dalam hal pengetahuan, kemampuan atau keahlian, dan perilaku yang diberikan pada program pelatihan sehingga mampu diaplikasikan pada kegiatan penyelesaian tugas.

Nadler (1987: 8) yang mendefinisikan pelatihan sebagai seluruh aktivitas yang direncanakan untuk meningkatkan unjuk kerja karyawan yang sekarang sedang bekerja.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah kegiatan yang direncanakan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap para karyawan yang sedang melaksanakan pekerjaannya.

Schuler (1987 113) menggabungkan pengertian pelatihan dan pengembangan sebagai berikut: Training and development is defined as the human resource practices are whose focused is identifying, assessing, and through planned learning develop the key competencies which enable people to perform current or future job.

Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pelatihan dan pengembangan merupakan salah satu praktik sumber daya manusia yang berfokus pada identifikasi, pengkajian, serta melalui proses belajar yang terencana berupaya untuk membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan kunci yang diperlukan agar individu dapat melaksanakan pekerjaanya saat ini maupun di masa depan.

Nadler (1987: 19) dan Handoko (1995: 67) mengartikan pengembangan (development) adalah sescorang belajar yang bersifat umum untuk antisipasi masa depan dan bertujuan menyiapkan para karyawan memegang tanggung jawab pekerjaan di waktu yang akan datang, sedangkan pelatihan diterapkan dan digunakan pada saat sekarang.

Latar Belakang Perlunya Pelatihan


Ada 6 (enam) Latar belakang diadakannya training oleh Nurtain:

Pertama, ledakan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dua dasawarsa terakhir menuntut kualitas guru yangsemakin tinggi untuk mentransfer hasil-hasil perkembangan pengetahuan dan teknologi kepada murid.

Kedua, kurikulum kita sudah distruktur dan bersifat "given". Desain dan struktur perlu penjabaran sehingga guru-guru yang menjabat sekarang merasa asing dengan kurikulum baru, apalagi dalam menghadapi otonomi pendidikan yang akan datang.

Ketiga, pendidikan guru (preservice teacher education) di masa lalu kadang-kadang terisolasi dan kurang beroricntasi pada kebutuhan guru mengembangkan profesinya secara kontinu.

Keempat, ide inovatif dalam pendidikan akan berhasil jika guru merasa butuh prestasi (need for achievement) dan standar yang lebih tinggi. Dengan demikian, guru akan merasa ditantang oleh perkembangan kurikulum sebagai konsekuensi dari inovasi dan perbaikan teknologi pendidikan.

Kelima, peningkatan kemampuan siswa pada standar yang diinginkan sebagai hasil proses belajar mengajar menuntut guru yang berkualitas, baik dalam sikap, keterampilan, maupun dalam pengetahuan.

Keenam, tekad pemerintah yang sudah tumbuh untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga kesempatan pelatihan bagi guru-guru semakin besar.

Menutur Zaltman, dkk. (1977:45) berpendapat bahwa setiap perubahan yang menuntut guru untuk mengubah norma-norma yang selama ini berlaku pasti menimbulkan hambatan dalam pelaksanaannya.

Dengan mengikutsertakan guru dalam pelatihan yang diorganisasi dan dilakukan dengan baik oleh penatar yang berkompetensi tinggi, baik metode maupun isi pengetahuannya, guru diharapkan dapat menjadi inovator dalam perubahanpenidikan.

Pada akhimya keberhasilan kegiatan pelatihan guru di masa depan terletak pada kualitas sumber-sumber dan program pusat pelatihan dan kinerja guru dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilannya di kelas.

Menurut Handoko (1995: 121) sebagai sebuah proses pendidikan, latihan dan pengembangan harus disusun langkah-langkah sebelum kegiatan latihan dan pengembangan dimulai. Langkah-langkah tersebut adalah:
1. penilaian dan identifikasi kebutuhan;
2. sasaran latihan dan pengembangan;
3. isi program; dan
4. prinsip-prinsip belajar.

Pendidikan dan pelatihan merupakan dua hal yang hampir sama maksud pelaksanaannya, tetapi ruang lingkupnya yang membedakan karakteristik kedua kegiatan tersebut.

Pendidikan merupakan tugas untuk meningkatkan pengetahuan, pengertian, atau sehingga mereka dapat lebih menyesuaikan dengan lingkungan kerjanya. Pendidikan berhubungan dengan menambah pengetahuan sikap seseorang umum dan pengertian tentang seluruh lingkungan kerja. Pendidikan berhubungan dengan menjawab bagaimana, mengapa, dan biasanya pendidikan lebih banyak berhubungan dengan teori pekerjaan.

Referensi:
Sutarti, Tatik, 2011, Kinerja Guru Berbasis Nilai Budaya, Kompensasi, dan Pelatihan di Kota Surakarta, Yuma Pustaka, Surakarta.

Tidak ada komentar