Teori Kejadian Alam Semesta atau Jagat Raya

Pemahaman tentang Alam Semesta

Pengertian jagat raya atau disebut alam semesta adalah segala yang terdapat di langit, seperti: Planet, bintang asteroid dan sistem tata surya lainnya yang merupakan lingkungan kehidupan seluruhnya (alam semesta).

kejadian alam semesta
source: vignette1.wikia.nocookie.net

Asal muasal kejadiannya berdasarkan beberapa teori yang dipaparkan dibawah, bahwa awalnya alam semesta adalah tempat sepi yang tidak memiliki kehidupan.

Berdasarkan perhitungan terbaru dari para astronom kehidupan baru mulai muncul paling tidak 500 juta tahun setelah jagat raya ini tercipta Banyak pandangan tentang jagat raya, dari zaman dahulu terutama dikaitkan dengan Bumi tempat manusia tinggal dan hidup.

Pada zaman dahulu orang berpendapat, bahwa Bumi ini adalah pusat alam semesta, artinya benda-benda langit yang dapat kita lihat, seperti: matahari, bulan, planet dan bintang yang bergerak mengelilingi Bumi, tetapi ternyata perkiraan itu tidak benar.

Bila kita melihat dari Bumi tampak benda-benda langit itulah yang mengelilingi Bumi, namun ada yang pertama kali menentang pendapat tersebut. Nicolai Copernicus (1473-1543).

Nicolai Copernicus meneliti jagat raya hampir setiap malam, dia mencatat posisi bintang-bintang bahwa ternyata posisi bintang tersebut selalu berubah tiap tahunnya. Secara logika, jika benda-benda langit itu mengelilingi Bumi, maka posisi dari benda-benda langit tersebut tidak akan berubah.

Selain itu Nicolai Copernicus juga mengamati, bahwa planet-planet memancarkan cahaya yang berubah-ubah kekuatannya, Hal ini terjadi, karena jarak antara Bumi dan planet berubah-ubah dan ini tidak mungkin terjadi jika Bumi menjadi pusat jagat raya. Akhirnya kita sekarang mengetahui, bahwa Bumi bukan pusat dari alam semesta dan Bumi hanyalah sebuah planet yang ada di dalam sebuah sistem yang disebut tata surya, di mana matahari menjadi pusatnya.

Bahkan kita juga menyadari, bahwa matahari bukan juga pusat dari jagat raya, Matahari hanyalah sebuah bintang dari banyak bintang di jagat raya ini, jutaan bahkan mungkin milyaran bintang. Tata surya melayang-layang di jagat raya yang maha luas yang kita tidak pernah mengetahui di mana pusatnya.

Bagi manusia yang yang beragama dan beriman menunjukkan bukti adanya Tuhan sang pencipta dengan segala keagungan-nya, bahwa Dia tidak punya sekutu dalam mencipta dan bahwa dialah yang Maha Kuasa.

Secara ilmiah, cukup banyak pandangan tentang asal mula terbentuknya tata surya bahkan sudah diselidiki ratusan tahun silam. Beberapa teori yang ada di antaranya adalah Teori Nebula (teori kabut), teori planetesimal, teori pasang surut, teori bintang kembar, dan teori proto planet (teori kondensasi).

Teori Alam Semesta berikut penjelasannya


Teori Nebula


Mengacu pada pandangan Imanuel Kant (1749-1827), seorang ilmuwan Jerman membuat hipotesis tentang terbentuknya tata surya. Menurutnya di Alam semesta terdapat gumpalan kabut yang berputar perlahan-lahan sehingga lama-kelamaan bagian tengah kabut itu berubah menjadi gumpalan gas yang kemudian membentuk matahari, dan bagian kabut di sekelilingnya membentuk planet-planet,satelit dan benda langit lainnya.

Seorang ilmuwan fisika Prancis bernama Pierre Simon de Laplace mengemukakan teori yang hampir sama, pada waktu yang hampir bersamaan. Menurut Laplace, tata surya berasal dari kabut panas yang berputar sehingga membentuk gumpalan kabut, yang pada akhirnya menjadi berbentuk bulat seperti bola besar.

Akibat putaran nya itu, bentuk bola itu memepat pada kutubnya dan melebar pada bagian equatornya, Kemudian, sebagian massa gas pada equator menjauh dari gumpalan inti dan membentuk cincin-cincin yang melingkari inti.

Dalam jangka waktu yang cukup lama cincin-cincin itu berubah menjadi gumpalan padat. Gumpalan-gumpalan kecil inilah yang membentuk planet-planet dengan satelitnya dan benda langit lainnya.

Sedangkan inti kabut itu tetap berbentuk gas pijar yang akhirnya disimpulkan sebagai matahari. Persamaan kedua teori tersebut adalah material asal pembentuk tata surya, yaitu kabut (nebula), sehingga kedua teori itu disebut teori nebula atau teori kabut, atau lebih dikenal dengan nama teori Kant dan Laplace

Teori Planetesimal


Teori ini dicetuskan oleh Thomas C. Chamberlin (1843-1928), dia adalah salah satu ilmuwan geologi dan Forest R.Moulton (1872-1952), yaitu seorang ilmuwan astronomi.
Planetesimal adalah planet kecil, karena menurut teori ini planet terbentuk dari benda padat atau unsur-unsur kecil yang memang telah ada sebelumnya.

Menurut teori ini, matahari yang ada sekarang sudah ada sehelumnya, kemudian suatu saat ada sebuah bintang melintas pada jarak yang tidak terlalu jauh dari matahari yang mengakitbatkan terjadi suatu peristiwa pasang naik di permukaan matahari maupun pada bintang itu, sehingga sebagian dari massa matahari tertarik ke arah bintang mirip lidah raksasa.

Pada saat bintang menjauhi matahari, sebagian dari massa yang tertarik tersebut jatuh kembali ke permukaan matahari dan sebagian lagi terhambur ke ruang angkasa di sekitar matahari menjadi planet-planet dan benda langit lainnya.

Teori Pasang Surut


Tokoh teori ini adalah Sir James Jean (1877-1946) dan Harold Jeffreys (1891), keduanya ilmuwan Inggris. Teori ini hampir sama dengan teori planetesimal, bintang yang paling itu berlalu, massa matahari yang lepas membentuk sebuah benda seperti cerutu yang terbentang ke arah bintang. Karena bintang bergerak makin menjauh, maka massa cerutu terputus-putus dan membentuk gumpalan gas di sekitar matahari.

Gumpalan-gumpalan gas membeku dan kemudian terbentuk lah planet-planet. Teori ini juga menjelaskan mengapa planet-planet di bagian tengah, seperti Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus memiliki ukuran besar, sedangkan pada bagian ujungnya seperti Merkurius dan Venus di dekat matahari dan Pluto di ujung lainnya mempunyai ukuran yang lebih kecil.

Teori bintang kembar


Teori ini dikemukakan pada tahun 1930, yang pada dasarnya mirip juga dengan teori planetesimal. Menurut teori ini, pada awalnya ada dua bintang kembar, kemudian satu bintang meledak menjadi serpihan-serpihan kecil.

Akibat pengaruh medan gravitasi bintang yang tidak meledak, serpihan-serpihan itu berputar mengelilinginya. Serpihan-serpihan itu kemudian dikenal sebagi planet-planet dan benda-benda langit kecil lainnya, sedangkan bintang yang tetap utuh adalah matahari

Teori Proto Planet (Teori Kondesasi)


Pada tahun 1940, Carl Von Weizsaekar, seorang ilmuwan Astronomi Jerman mengemukakan suatu teori, yang pada tahun 1959 disempurnakan oleh ilmuwan astronomi lain, yaitu Gerald P Kuiper dan Subrahmanyan Chandrasekhar.

Pada prinsipnya teori ini mengutarakan bahwa tata surva terbentuk dari proses pemampatan gumpalan awan gas dan debu. Menurut mereka, peristiwa ini berlangsung lebih lima miliar tahun lalu. Pada proses pemampatan ini, partikel-partikel debu tertarik ke bagian pusat awan, kemudian membentuk gumpalan bola yang dapat berputar.

Dalam selang waktu jutaan tahun gumpalan gas memipih menyerupai sebuah bentuk cakram, yaitu tebal di bagian tengah dan lebih tipis di bagian tepinya Partikel-partikel di bagian tengah cakram mempunyai tekanan yang lebih tinggi sehingga menimbulkan panas dan berpijar, yang pada akhirnya menjadi matahari.

Sedangkan bagian yang paling luar berputar sangat cepat, sehingga terpecah-pecah menjadi banyak gumpalan gas dan debu yang lebih kecil, yang kemudian membeku dan menjadi planet-planet dan benda langit lainnya. Teori proto planet merupakan teori yang populer saat ini karena dianggap teori yang secara tepat melukiskan asal-usul tata surya.

Teori Big-Bang


Manakah dari sejumlah teori di atas yang paling benar? Sulit memang untuk menjawabnya, karena setiap ilmuwan memiliki rasional dan persepektif tersendiri. Tetapi pengungkapan kejadian tata surya terus dilakukan dan tidak berhenti. Namun akhirnya para ilmuwan terkini banyak menyimpulkan kejadian tata surya berasal dari dentuman besar, yang dikenal dengan Big Bang.

Teori inilah yang kemudian menjadi teori yang paling diterima saat ini, bahwa alam semesta ini bermula dari ledakan besar sekitar 10-20 milyar tahun yang lalu. Semua materi dan energi yang kini ada di alam terkumpul dalam satu titik tak berdimensi yang berkerapatan tak berhingga.

Tetapi ini jangan dibayangkan seolah-olah titik itu berada di suatu tempat di alam yang kita kenal sekarang ini. Yang benar, materi, energi, dan ruang yang ditempatinya seluruhnya bervolume amat kecil, hanya satu titik tak berdimensi Tidak ada suatu titik pun di alam semesta yang dapat dianggap sebagai pusat ledakan. Dengan kata lain ledakan besar alam sermesta tidak seperti Iedakan bom yang meledak dari satu titik ke segenap penjuru.

Hal ini karena pada hakekatnya seluruh alam turut serta dalam ledakan itu. Lebih tepatnya, seluruh alam semesta mengembang tiba-tiba secara serentak. Ketika itulah mulainya terbentuk ruang dan waktu.

Radiasi yang terpancar pada saat awal pembentukan itu masih berupa cahaya. Namun karena alam semesta terus mengembang, panjang gelombang radiasi itu pun makin panjang, sesuai dengan efek Doppler, menjadi gelombang radio. Kini radiasi awal itu yang dikenal sebagai radiasi latar belakang kosmik (cosmic background radiation) yang dapat di deteksi dengan teleskop radio.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa alam semesta atau jagat raya mengacu pada teori Big Bang, semuanya berasal dari satu materi dasar vang berupa hidrogen. Dari reaksi nuklir (fusi) di dalam bintang terbentuk suatu unsur-unsur berat seperti karbon, sampai besi. Kandungan unsur- unsur berat tersebut dalam komposisi materi bintang merupakan salah satu "akte" lahir bintang.

Bintang-bintang yang mengandung banyak unsur berat berarti bintang tersebut "generasi muda" yang memanfaatkan materi-materi sisa ledakan bintang-bintang tua. Materi pembentuk bumi diyakini berasal dari debu dan gas antar bintang yang berasal dari ledakan bintang di masa lalu. Jadi, seisi alam ini memang berasal dari satu kesatuan Teori Big Bang meskipun sangat populer dan banyak pendukungnya, tetapi bukan berarti tidak ada yang mengkritisinya atau semua ilmuwan menyetujuinya.

Beberapa ilmuwan meyakini bahwa alam semesta ini tidak berawal, secara sederhana alam semesta ini tidak diawali oleh Big Bang sekalipun. Beberapa pakar kosmologi dan fsikawan teoritis "menggugat" bahwa alam ini ada awalnya.

Beberapa teori lain menyatakan bahwa tidak ada batas dalam waktu, tidak ada singularitas Big Bang. Ini misalnya dikemukakan oleh Maddox (1989) dan Levy-Leblond(1989) serta dalam buku populer Hawking (1989). Mereka berpendapat bahwa tidak ada batas waktu yang dapat disebut sebagai awal penciptaan alam semesta. Hav dalam buku "A Brief History of Time" menyebutnya "No-boundary conditions".

Demikian semua teori tentang kejadian tata surya, manakah yang paling Ada percayai?

referensi:
Dwiyana, A. Sy. (2011) Dina Dasar-dasar Matematika dan Sains. Jakarta

Tidak ada komentar